Jakarta – Memasuki usia 25 tahun, Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk membangun budaya literasi yang berkelanjutan sekaligus mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, kritis, dan berdaya saing di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Komitmen tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengurus Pusat Gerakan Pembudayaan Minat Baca (PP GPMB) 2026 bertema “25 Tahun GPMB: Refleksi Perjalanan, Konsolidasi Gerakan, dan Penguatan Literasi Indonesia” yang berlangsung di Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Ketua Umum PP GPMB, Herlina Mustikasari, M.A., Ph.D., mengatakan bahwa gerakan literasi tidak boleh berhenti pada upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Lebih dari itu, budaya membaca harus menjadi pintu masuk untuk memperluas pengetahuan, membangun pemahaman, serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Menurut Herlina, membaca merupakan langkah awal untuk membentuk masyarakat pembelajar yang mampu memanfaatkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketika kita bergerak untuk minat baca, tujuannya bukan minat baca itu sendiri. Justru setelah masyarakat memiliki minat baca, itu membuka pintu kepada suatu dunia yang lebih luas, yaitu dunia pengetahuan dan pemahaman,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan bagi gerakan literasi. Kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis, memahami konteks, serta memilah informasi yang benar dan berkualitas.
Herlina mengingatkan, derasnya arus informasi di era digital tidak serta-merta menjamin meningkatnya pengetahuan seseorang. Tanpa kemampuan mengolah informasi secara baik, masyarakat justru berisiko mengalami pendangkalan pemahaman.
“Literasi itu bukan hanya berkaitan dengan membaca dan menulis. Literasi juga tentang bagaimana masyarakat dapat memilah informasi, mengelola informasi, dan menggunakan informasi itu untuk kesejahteraan serta meningkatkan kualitas hidupnya,” jelasnya.
Karena itu, penguatan literasi perlu berjalan beriringan dengan transformasi digital. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu mengakses informasi, tetapi juga memiliki kecakapan untuk mengevaluasi dan memanfaatkan informasi secara produktif dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut, Herlina menegaskan bahwa pembangunan budaya literasi merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, perpustakaan, komunitas, pegiat literasi, hingga masyarakat harus mengambil peran dalam membangun ekosistem literasi yang kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, tidak ada satu lembaga pun yang dapat menyelesaikan persoalan literasi secara mandiri. Oleh sebab itu, kolaborasi dan konsolidasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar gerakan literasi dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Herlina tetap optimistis terhadap masa depan gerakan literasi di Indonesia. Ia mengapresiasi konsistensi para pegiat literasi yang selama ini terus bekerja menumbuhkan budaya membaca di berbagai lingkungan masyarakat.
“Saya tetap optimistis bahwa apa yang ditanam, apa yang ditabur oleh para aktivis literasi, pasti akan bertumbuh. Jadi, tetap semangat,” tuturnya.
25 Tahun Perjalanan GPMB
Sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang bersifat independen, GPMB didirikan di Istana Bogor pada 25 Oktober 2001 atas inisiasi Perpustakaan Nasional RI bersama para pendidik, pegiat literasi, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap budaya baca.
Selama perjalanan 25 tahun, GPMB berkomitmen mendorong tumbuhnya minat baca sekaligus membudayakan literasi di tengah masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.
Memasuki usia seperempat abad, GPMB terus mendorong penguatan kualitas sumber daya manusia melalui perluasan akses bahan bacaan, peningkatan kualitas perpustakaan sekolah dan desa/kelurahan, serta pengembangan kolaborasi lintas sektor.
Seminar Nasional dan Rakornas PP GPMB 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan perjalanan organisasi, memperkuat konsolidasi kepengurusan, sekaligus merumuskan langkah strategis dalam menghadapi tantangan literasi di era digital.
Melalui sinergi yang semakin luas, GPMB berharap gerakan literasi tidak sekadar membangun kebiasaan membaca, tetapi juga melahirkan masyarakat yang memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir kritis, kecakapan mengelola informasi, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dengan demikian, peringatan 25 tahun GPMB menjadi penguatan komitmen bersama bahwa literasi merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat pembelajar dan meningkatkan daya saing bangsa.