Jakarta – Dewan Adat Betawi bersama DPW Syarikat Islam DKI Jakarta kembali menggelar kegiatan santunan anak yatim sebagai agenda rutin tahunan di bulan suci Ramadhan. Tahun ini, sebanyak 500 anak yatim dari berbagai wilayah di Jakarta menerima santunan dalam kegiatan yang sarat nilai sosial dan keagamaan.
Ketua Dewan Adat Betawi, M. Rifky atau yang akrab disapa Eki Pitung, menjelaskan bahwa para penerima santunan berasal dari berbagai yayasan dan lingkungan masjid. Di antaranya dari wilayah sekitar lokasi kegiatan, masjid-masjid di Jakarta Timur, serta perwakilan dari Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.
“Kegiatannya variatif, ada dari lingkungan sini, dari beberapa masjid, juga dari Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Barat. Ini jaringan Betawi yang sudah terbangun dengan baik,” ujar Eki Pitung.
Menurutnya, kegiatan santunan ini telah menjadi tradisi yang konsisten dilaksanakan selama kurang lebih 15 tahun. Jumlah penerima santunan setiap tahunnya pun bersifat fleksibel, menyesuaikan dengan kemampuan dan dukungan yang ada, dengan kisaran antara 500 hingga 1.000 anak yatim.
“Minimal kita 500 anak yatim, dan tahun ini kita laksanakan 500. Tahun lalu 1.000, sebelumnya juga pernah lebih besar. Semua ini hasil gotong royong pengurus dan kolaborasi dengan para tokoh serta donatur,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan serupa bahkan pernah menjangkau hingga 1.000 sampai 2.000 anak yatim, termasuk dalam kegiatan berskala besar yang digelar di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Dalam pelaksanaannya, bantuan yang diberikan tidak hanya berasal dari internal organisasi, tetapi juga hasil kolaborasi dengan berbagai pihak. Sejumlah lembaga sosial seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) turut berkontribusi, bersama para donatur yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.
Selain sebagai bentuk kepedulian sosial, kegiatan ini juga dimaknai sebagai bagian dari peningkatan nilai ibadah di bulan Ramadhan. Eki Pitung menyebut, santunan ini sekaligus menjadi momentum untuk mendoakan bangsa Indonesia agar tetap aman dan kondusif di tengah berbagai tantangan global.
“Kami juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah,” katanya.
Di sisi lain, Dewan Adat Betawi turut menyoroti pentingnya pelestarian budaya Betawi di tengah pesatnya perkembangan Jakarta sebagai kota global. Mereka mengingatkan agar modernisasi tidak menghilangkan identitas masyarakat asli Jakarta.
“Betawi ini masyarakat inti Jakarta yang harus dijaga. Jangan sampai ketika Jakarta menjadi kota global, budaya dan masyarakat aslinya justru hilang,” tegas Eki Pitung.
Untuk itu, pihaknya mendorong adanya perhatian lebih dari pemerintah pusat melalui regulasi dan kebijakan yang mendukung pelestarian budaya Betawi. Ia mencontohkan sejumlah daerah yang telah memiliki kekhususan seperti Aceh, Yogyakarta, dan Papua.
Melalui kegiatan santunan ini, Dewan Adat Betawi berharap nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, serta semangat menjaga budaya lokal dapat terus terjaga dan diwariskan di tengah arus perubahan zaman.