Home / Daerah

Ketahanan Kesehatan: Menjadi Agenda FORMAS Menyiapkan Generasi Indonesia Emas 2045

Media Bela Negara - 09 Agustus 2026, 20:25 WIB

Jakarta, mediabelanegara.com — Pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, maupun kemajuan teknologi. Kualitas manusia yang akan mengisi Indonesia pada dua dekade mendatang justru menjadi salah satu penentu utama apakah visi tersebut benar-benar dapat diwujudkan.

Pesan itu mengemuka dalam Konsolidasi Nasional dan pengukuhan 20 organisasi kemasyarakatan (ormas) baru yang bergabung dalam Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) di Aula Universitas Podomoro, Jakarta, Jumat (7/8/2026) malam.

Ketua Dewan Pembina FORMAS Hashim Djojohadikusumo menekankan pentingnya keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), persoalan stunting, serta penguatan ketahanan kesehatan masyarakat.

Bagi Hashim, program pemenuhan gizi tidak semestinya dipandang sebagai program jangka pendek. MBG perlu dijaga kesinambungannya hingga 2029, agar fondasi kesehatan dan kualitas sumber daya manusia dapat dibangun secara konsisten.

Pesan tersebut menjadi penting karena persoalan gizi anak dan stunting bukan hanya persoalan kesehatan saat ini. Dampaknya dapat menentukan kualitas pendidikan, produktivitas, kemampuan ekonomi, bahkan daya saing bangsa dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, investasi terhadap kesehatan dan gizi anak hari ini merupakan investasi terhadap Indonesia Emas 2045.

MBG tidak boleh berhenti sebagai program lima tahunan

Program MBG menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, tantangan terbesar program tersebut bukan hanya bagaimana menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat sasaran, melainkan bagaimana memastikan program berjalan konsisten, tepat sasaran, memenuhi standar gizi dan keamanan pangan, serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas manusia.

Dalam konteks inilah pernyataan Hashim mengenai keberlanjutan MBG hingga 2029 memiliki arti strategis.  Program pemenuhan gizi membutuhkan kesinambungan.

Anak yang hari ini menerima makanan bergizi tidak serta-merta terbebas dari persoalan stunting apabila lingkungan rumah, pola asuh, sanitasi, air bersih, pendidikan kesehatan, dan akses layanan kesehatan tidak diperbaiki secara bersamaan.

Karena itu, MBG seharusnya tidak berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem pembangunan manusia. Makanan bergizi merupakan pintu masuk.

Pendidikan kesehatan, pemeriksaan kesehatan, pencegahan penyakit, sanitasi, air bersih, perlindungan ibu dan anak, serta peningkatan literasi kesehatan merupakan bagian yang harus menyertainya.  Di sinilah peran masyarakat sipil menjadi penting.

Stunting bukan sekadar angka kesehatan

Persoalan stunting juga perlu dilihat lebih luas.  Stunting pada anak berkaitan dengan kondisi kekurangan gizi kronis yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan. Dampaknya tidak berhenti pada masa kanak-kanak, tetapi dapat berpengaruh terhadap kemampuan belajar, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia ketika memasuki usia dewasa.

Karena itu, penanganan stunting tidak dapat diserahkan hanya kepada sektor kesehatan. Ia membutuhkan keterlibatan pendidikan, pangan, perlindungan sosial, pemerintah daerah, keluarga, dunia usaha, hingga organisasi masyarakat.

FORMAS dengan jaringan organisasi yang terus berkembang dapat mengambil posisi sebagai salah satu kekuatan sosial yang membantu memperkuat edukasi dan pengawasan di tingkat masyarakat.

Jika MBG diarahkan untuk memastikan anak memperoleh asupan bergizi, maka gerakan masyarakat dapat memastikan keluarga memahami mengapa gizi penting, bagaimana pola hidup sehat diterapkan, dan bagaimana tanda-tanda gangguan pertumbuhan dapat dikenali sejak dini.

Dengan pendekatan tersebut, program pemerintah tidak berhenti pada distribusi makanan, tetapi menghasilkan perubahan perilaku.

103 ormas dan agenda kesehatan nasional

Pengukuhan 20 ormas baru membuat jumlah organisasi yang tergabung dalam FORMAS mencapai 103 organisasi.

Pertambahan tersebut bukan sekadar angka organisatoris.  Ketua Dewan Pakar FORMAS Serian Wijatno menyebut konsolidasi tersebut sebagai langkah untuk memperkuat peran ormas dalam mendukung sekaligus mengawal program pembangunan pemerintah.

Ketua Umum FORMAS Yohanes Handojo Budhisedjati juga menegaskan bahwa FORMAS ingin membantu mewujudkan program-program kerakyatan dan memastikan kebijakan strategis pemerintah memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dalam konteks kesehatan, jaringan 103 organisasi tersebut dapat menjadi kekuatan sosial yang menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput.

Inilah salah satu alasan mengapa gagasan kolaborasi FORMAS dengan Kementerian Kesehatan menjadi relevan untuk dikembangkan.

Kementerian Kesehatan memiliki kewenangan, standar, tenaga ahli, data, serta kebijakan kesehatan nasional.

FORMAS memiliki jaringan masyarakat sipil yang dapat membantu memperluas edukasi dan partisipasi masyarakat.  Keduanya dapat dipertemukan dalam sebuah program ketahanan kesehatan masyarakat.

Dari program pemerintah menjadi gerakan nasional

Gagasan yang berkembang dalam konsolidasi FORMAS adalah agar ketahanan kesehatan rakyat tidak berhenti sebagai agenda sektoral pemerintah, tetapi berkembang menjadi program nasional yang melibatkan masyarakat secara luas.

Konsep tersebut dapat dimulai dari hal yang sederhana: meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sebelum sakit.

Selama ini sistem kesehatan masih sering dipahami dari perspektif kuratif—datang ke fasilitas kesehatan ketika seseorang sudah mengalami gangguan kesehatan.

Padahal, pendekatan preventif dapat mengurangi risiko penyakit sekaligus beban biaya kesehatan.

Karena itu, masyarakat perlu dibekali literasi mengenai gizi, pola hidup sehat, kebersihan lingkungan, aktivitas fisik, kesehatan anak, kesehatan ibu, deteksi dini penyakit, hingga penggunaan obat secara benar.

Program tersebut dapat dikembangkan melalui sekolah, keluarga, komunitas, organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan, organisasi perempuan, dan berbagai jaringan masyarakat yang berada di bawah FORMAS.  Dengan demikian, ketahanan kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit.

Ketahanan kesehatan dimulai dari rumah, sekolah, komunitas, dan lingkungan masyarakat.

FORMAS–Kementerian Kesehatan

Kerja sama FORMAS dengan Kementerian Kesehatan dapat diarahkan untuk membangun model kolaborasi yang terukur.

FORMAS dapat menjadi salah satu mitra masyarakat sipil untuk memperluas literasi kesehatan, sedangkan Kementerian Kesehatan menyediakan standar ilmiah, materi edukasi, pendampingan tenaga kesehatan, dan mekanisme evaluasi.

Kerja sama tersebut dapat mencakup beberapa agenda.  Pertama, literasi kesehatan sejak usia dini.  Anak-anak perlu diperkenalkan pada kesadaran menjaga tubuh, makanan bergizi, kebersihan, aktivitas fisik, dan pencegahan penyakit.

Kedua, penguatan edukasi gizi keluarga.  MBG akan lebih efektif apabila keluarga memahami prinsip gizi seimbang dan mampu melanjutkan pola makan sehat di rumah.

Ketiga, pencegahan dan deteksi dini stunting.  Masyarakat perlu memahami bahwa pencegahan stunting tidak dimulai setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi sejak masa kehamilan bahkan sebelum kehamilan melalui kesehatan calon ibu.

Keempat, promosi kesehatan preventif.  Masyarakat perlu didorong melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan memahami faktor risiko penyakit tidak menular.

Kelima, edukasi penggunaan obat dan produk kesehatan secara rasional, termasuk pengembangan pemanfaatan tanaman obat dan herbal yang memenuhi standar keamanan serta pembuktian ilmiah.

Jika dikembangkan secara konsisten, kerja sama tersebut dapat menjadi model kolaborasi antara negara dan masyarakat sipil dalam membangun ketahanan kesehatan nasional.

Menghubungkan MBG dengan ketahanan kesehatan

Ada satu hal yang penting dari keseluruhan gagasan tersebut.  MBG jangan dilihat sebagai program yang berdiri sendiri.

Program makanan bergizi dapat menjadi entry point menuju gerakan kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Anak yang memperoleh makanan bergizi di sekolah atau satuan pelayanan tidak hanya membutuhkan makanan.  Ia membutuhkan lingkungan yang sehat.  Ia membutuhkan keluarga yang memahami gizi.  Ia membutuhkan akses air bersih dan sanitasi.  Ia membutuhkan pemeriksaan pertumbuhan.  Ia membutuhkan pendidikan.  Dan ketika sakit, ia membutuhkan akses layanan kesehatan yang berkualitas.

Karena itu, keberlanjutan MBG hingga 2029 seperti yang ditekankan Hashim dapat menjadi salah satu momentum untuk membangun ekosistem kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Jika program tersebut berhasil diintegrasikan dengan agenda pencegahan stunting dan literasi kesehatan, manfaatnya tidak hanya dirasakan selama periode pemerintahan sekarang.

Dampaknya dapat terbawa hingga generasi yang memasuki usia produktif pada saat Indonesia menuju 2045.

Ketahanan kesehatan dan kemandirian bangsa

Ketahanan kesehatan juga memiliki dimensi yang lebih luas.  Pandemi Covid-19 telah menunjukkan bahwa kesehatan dapat berubah menjadi persoalan strategis ketika rantai pasok obat, alat kesehatan, vaksin, maupun bahan baku terganggu.

Karena itu, Indonesia membutuhkan masyarakat yang sehat sekaligus sistem kesehatan yang tangguh dan mandiri.

Pengembangan obat dan produk kesehatan dalam negeri, penelitian, pemanfaatan kekayaan hayati, serta penguatan industri farmasi nasional dapat menjadi bagian dari agenda tersebut.

Dalam konteks inilah gagasan FORMAS mengenai pemanfaatan tanaman obat dan herbal juga memperoleh relevansinya.

Namun, pemanfaatan herbal harus ditempatkan dalam kerangka ilmiah. Masyarakat membutuhkan produk yang aman, terstandar, teruji, dan memiliki dasar ilmiah, bukan sekadar klaim kesehatan.

Jika kekayaan hayati Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk herbal terstandar dan fitofarmaka, Indonesia bukan hanya menjadi pasar produk kesehatan, tetapi juga memiliki peluang menjadi produsen.

Dengan demikian, ketahanan kesehatan memiliki hubungan langsung dengan kemandirian ekonomi dan kedaulatan bangsa.

Indonesia Emas membutuhkan manusia yang sehat

Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam acara tersebut mengingatkan bahwa pencapaian Indonesia Emas tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi, perkembangan teknologi, dan bonus demografi.

Pembangunan juga membutuhkan fondasi spiritual yang kuat untuk menghadapi perubahan global dan menjaga persatuan nasional.

Pesan tersebut dapat diperluas dalam konteks kesehatan.  Indonesia Emas membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas dan produktif, tetapi juga sehat secara fisik, memiliki kesadaran menjaga kesehatan, serta memiliki karakter dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, pembangunan manusia harus dimulai sejak anak-anak.  Gizi, pendidikan, kesehatan dan karakter merupakan empat unsur yang tidak dapat dipisahkan.

Dihadiri tokoh nasional

Konsolidasi nasional dan pengukuhan 20 ormas baru tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional, pejabat negara, pimpinan organisasi kemasyarakatan, tokoh lintas agama, serta kalangan akademisi.

Selain Ketua Dewan Pembina FORMAS Hashim Djojohadikusumo dan Menteri Agama Nasaruddin Umar, hadir Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Haji dan Umrah, serta sejumlah wakil menteri dan pejabat tinggi negara.

Hadir pula Kepala Rumah Sakit Rehabilitasi Medik Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Brigjen TNI dr. Markus Wibowo, Sp.OT., MARS, Ketua Dewan Pakar FORMAS Serian Wijatno, Direktur Hubungan Antar Lembaga & Protokoler FORMAS, Evert Nunuhitu, dan para Ketua umu Ormas anggota Formas.

Kehadiran unsur pemerintah, dunia pendidikan, pertahanan dan kesehatan dalam forum tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan manusia membutuhkan pendekatan lintas sektor.

Tidak ada satu kementerian atau satu lembaga yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut sendirian.

Tantangan FORMAS: mengubah gagasan menjadi program

Pertambahan anggota menjadi 103 ormas memberikan FORMAS modal sosial yang besar.

Namun, modal tersebut baru akan memiliki arti apabila diterjemahkan menjadi program yang konkret dan dapat diukur.

Untuk agenda kesehatan, misalnya, keberhasilan tidak cukup diukur dari berapa banyak seminar yang diselenggarakan.

Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak masyarakat yang mengalami peningkatan pengetahuan kesehatan, berapa banyak anak yang terpantau pertumbuhannya, berapa banyak keluarga yang memahami gizi, serta seberapa efektif masyarakat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan preventif.

Karena itu, kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan perlu dibangun dengan indikator yang jelas.

FORMAS dapat menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus tetap menjalankan fungsi sosialnya untuk mengawal manfaat program bagi masyarakat.  Di sinilah makna pernyataan bahwa FORMAS bukan sekadar wadah berkumpulnya organisasi.

Jika ingin menjadi bagian dari perjalanan menuju Indonesia Emas, FORMAS harus mampu membuktikan bahwa konsolidasi organisasi menghasilkan konsolidasi manfaat bagi rakyat.

Dari 2026 menuju 2045

Tahun 2026 masih menyisakan hampir dua dekade menuju 2045.  Waktu tersebut terlihat panjang, tetapi pembangunan manusia membutuhkan proses lintas generasi.

Anak yang memperoleh gizi dan pendidikan kesehatan hari ini akan menjadi bagian dari angkatan kerja Indonesia pada masa mendatang.

Karena itu, keberlanjutan MBG hingga 2029 yang ditekankan Hashim dapat ditempatkan sebagai salah satu fase penting dalam perjalanan panjang tersebut.

Setelah itu, agenda kesehatan harus terus dilanjutkan dan diperkuat.   Program boleh berubah.  Kebijakan boleh disempurnakan.  Teknologi boleh berkembang.

Namun satu hal tidak boleh berubah: komitmen negara dan masyarakat untuk memastikan generasi yang lahir hari ini tumbuh sehat dan mampu membawa Indonesia menjadi negara maju.

Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang gedung-gedung tinggi, ekonomi besar, atau teknologi canggih.  Indonesia Emas adalah tentang manusia Indonesia.

Dan manusia Indonesia yang kuat harus dibangun dari tubuh yang sehat, pikiran yang terdidik, karakter yang kuat, serta masyarakat yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan bersama.

Dari sinilah gagasan FORMAS tentang MBG, pencegahan stunting, dan kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan memperoleh arti strategis.

Jika ketahanan kesehatan rakyat dapat dijadikan gerakan nasional, maka investasi terbesar Indonesia menuju 2045 sesungguhnya bukan hanya membangun infrastruktur—melainkan membangun manusia yang akan mengisinya.

BN - Agus Mdh

Share :

google.com, pub-1323206817749951, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TERPOPULER


Lainnya