Home / Daerah

Indo Livestock 2026 Jadi Ajang Inovasi Industri Peternakan, Peternak Soroti Pentingnya Stabilitas Harga Telur

Media Bela Negara - 16 Juni 2026, 19:08 WIB

Jakarta, 2 Juli 2026 – Indo Livestock 2026 kembali hadir sebagai pameran dan forum bisnis industri peternakan terbesar di Indonesia yang mempertemukan pelaku usaha, akademisi, pemerintah, serta penyedia teknologi dari dalam dan luar negeri. Ajang ini menjadi wadah strategis untuk mendorong transformasi sektor peternakan nasional menuju sistem produksi yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.


Penyelenggaraan Indo Livestock 2026 menampilkan berbagai inovasi terkini di bidang pembibitan, pakan ternak, kesehatan hewan, peralatan peternakan, pengolahan hasil ternak, hingga teknologi digital yang mendukung

peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan nasional.
Selain pameran, Indo Livestock 2026 juga menghadirkan konferensi internasional, seminar teknis, serta forum diskusi yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari biosekuriti, keberlanjutan industri, kesejahteraan hewan, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan daya saing sektor peternakan Indonesia.


Salah satu pelaku usaha perunggasan sekaligus Ketua Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), Alvino Antonio, menilai penyelenggaraan pameran industri peternakan memberikan manfaat besar bagi peternak karena membuka akses terhadap informasi teknologi, peralatan kandang, pakan, obat-obatan, hingga jaringan pemasok yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas usaha.


Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya memperkenalkan inovasi terbaru di sektor peternakan, tetapi juga membantu peternak menemukan solusi dan mitra usaha yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Selain membahas perkembangan teknologi peternakan, Alvino juga menyoroti kondisi harga telur yang masih berfluktuasi mengikuti dinamika pasokan dan permintaan. Ia menilai program pemerintah yang menghubungkan langsung dapur penyedia makanan dengan produsen telur merupakan konsep yang baik karena dapat membantu menggerakkan ekonomi pelaku usaha kecil dan menengah di sektor peternakan.


Namun demikian, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Menurutnya, pemerintah perlu memiliki data yang akurat mengenai jumlah produksi dan tingkat permintaan telur sehingga dapat mengantisipasi potensi kelebihan pasokan yang berujung pada penurunan harga di tingkat peternak.


“Kalau harga telur jatuh, pemerintah harus bisa melihat apakah memang terjadi kelebihan pasokan atau ada faktor lain. Semua itu harus didukung data yang akurat,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah melalui berbagai instrumen, termasuk cadangan pangan pemerintah dan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dapat meningkatkan penyerapan hasil produksi peternak ketika harga sedang turun. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat.


Menurutnya, mekanisme serapan saat harga rendah dan operasi pasar ketika harga tinggi dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan keseimbangan pasar yang lebih baik.


Selain itu, ia berharap pemerintah kembali menghadirkan program bantuan pangan bergizi yang melibatkan produk peternakan seperti telur sehingga dapat membantu meningkatkan konsumsi masyarakat sekaligus menyerap produksi peternak.


Lebih lanjut, Alvino menegaskan bahwa kunci utama dalam menjaga stabilitas sektor perunggasan adalah ketersediaan data yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dengan data yang akurat mengenai jumlah produksi dan kebutuhan pasar, kebijakan yang diambil akan lebih tepat sasaran dan mampu mengurangi ketidakpastian yang selama ini sering memicu perdebatan mengenai kondisi kelebihan maupun kekurangan pasokan.


“Pemerintah daerah sebenarnya memiliki data di lapangan. Jika data produksi dan kebutuhan bisa terkontrol dengan baik, maka kondisi pasar juga akan lebih mudah dikelola,” katanya.

Share :

google.com, pub-1323206817749951, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TERPOPULER


Lainnya