Tangerang- Panitia Natal Nasional 2025 bersama Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Universitas Pelita Harahan menggelar Seminar Nasional 2026 di Tangerang, Selasa (3/1). Seminar mengangkat tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” dengan penekanan pada peran keluarga sebagai fondasi kehidupan sosial dan ketahanan bangsa.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyatakan rangkaian Natal Nasional 2025 tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Berbagai diskusi dan aksi sosial telah digelar di sejumlah daerah, mulai dari Bandung, Sumatera Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua.
Besarnya dukungan publik, termasuk dari kalangan non-Kristiani, membuat penyaluran bantuan sosial Natal Nasional masih terus berlangsung. Hal tersebut mendorong panitia menambah agenda seminar lanjutan guna memastikan seluruh bantuan tersalurkan secara optimal.
Maruarar menegaskan konsep Natal Nasional 2025 mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kesederhanaan serta dampak nyata bagi masyarakat, dengan fokus pada sektor pendidikan, kesehatan, dan penguatan kelompok rentan.
Prinsip tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan acara berskala terbatas, konsumsi berbasis produk UMKM, tanpa penampilan artis nasional. Panitia menghadirkan penyanyi gerejawi dari Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Tapanuli sebagai simbol keberagaman.
Simbol Natal juga ditampilkan secara berbeda melalui pohon Natal yang disusun dari buah-buahan lokal, yang dapat dinikmati peserta sekaligus mendukung petani daerah.
Pendiri Grup Lippo, James Riady, dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama pembentukan nilai iman, etika, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
Ia menilai penguatan keluarga menjadi kunci dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
James Riady juga menegaskan bahwa Natal Nasional harus dimaknai sebagai panggilan untuk menghadirkan kasih dan kepedulian secara nyata, tidak hanya bagi umat Kristiani, tetapi juga bagi seluruh elemen bangsa. “Iman harus diwujudkan dalam tindakan yang membawa kebaikan bersama,” ujarnya.
Prinsip kesederhanaan diwujudkan melalui penyelenggaraan acara berskala terbatas, konsumsi berbasis produk UMKM, tanpa penampilan artis nasional. Panitia menghadirkan penyanyi gerejawi dari Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Tapanuli sebagai simbol keberagaman.
Simbol Natal juga ditampilkan secara berbeda melalui pohon Natal yang disusun dari buah-buahan lokal, yang dapat dinikmati peserta sekaligus mendukung petani daerah.
Acara ditutup dengan penyerahan bantuan ambulans secara simbolis kepada perwakilan lintas agama oleh Astra, sebagai wujud penguatan layanan sosial lintas iman. Seminar dibuka oleh Prof. Binsar Pakpahan dan menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto.