KUPANG BARAT, (25/2) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menginisiasi program Desa Eco-Bahari di Desa Lifuleo dan Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Program ini untuk menggerakkan perekonomian desa, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memperkuat pengelolaan sumber daya pesisir secara terpadu.
Pelaksanaan program ini berawal dari hasil Sustainable Livelihood Assessment (SLA) Tim Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang, yang mengidentifikasi sejumlah tantangan utama masyarakat pesisir, antara lain keterbatasan akses terhadap modal finansial, rendahnya kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), serta minimnya infrastruktur pendukung. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya produktivitas sektor budi daya rumput laut dan perikanan tangkap tradisional yang masih mengandalkan teknologi sederhana.
Desa Lifuleo sendiri memiliki luas wilayah sekitar 6,8 km² dengan jumlah penduduk 1.191 jiwa. Mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada budi daya rumput laut yang melibatkan sekitar 67,4 persen penduduk. Sementara itu, sekitar 32,6 persen masyarakat bekerja sebagai nelayan tangkap, baik secara musiman maupun sebagai mata pencaharian tambahan. Selain potensi kelautan, desa ini juga memiliki sumber daya di sektor pertanian yang turut menopang perekonomian masyarakat.
Dalam keterangan persnya, Rabu (25/2), Direktur Politeknik KP Kupang Muhamad Ali Ulat mengatakan, program ini merupakan bentuk sinergi antara dunia pendidikan vokasi dan dunia usaha dalam memperkuat kapasitas masyarakat pesisir berbasis potensi lokal, keberlanjutan lingkungan, serta pemanfaatan teknologi tepat guna. Kegiatan ini diharapkan menjadi model percontohan pengembangan desa pesisir yang dapat direplikasi di wilayah lainnya.
“Desa Eco-Bahari merupakan konsep pembangunan desa pesisir yang berorientasi pada pengembangan ekonomi berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Konsep ini bertujuan menciptakan desa yang mandiri, maju, dan berdaya saing, dengan tetap menjaga keseimbangan ekologi serta kearifan lokal masyarakat pesisir,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan Program Desa Eco-Bahari berlandaskan lima dimensi utama, yaitu Sustainability (keberlanjutan), Eco-Friendliness (ramah lingkungan), Local Wisdom (kearifan lokal), Acceleration (percepatan ekonomi), dan Technology (pemanfaatan teknologi).
*Output dan Outcome*
Skema Desa Eco-Bahari dikembangkan melalui tiga kategori program utama, yakni Program Edukasi dan Pelatihan untuk peningkatan kapasitas SDM, Program Konservasi Lingkungan guna menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir, serta Program Pengembangan Sarana dan Prasarana pendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Ketiga skema tersebut dirancang saling terintegrasi agar mampu memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Dosen Politeknik KP Kupang sekaligus koordinator proyek ini, Rifqah Pratiwi, merinci Program Edukasi dan Pelatihan terdiri dari pelatihan dan monitoring budi daya selvarula, monitoring kualitas perairan, introduksi teknologi pengeringan, serta pemberdayaan perempuan dan UMKM. Adapun Program Konservasi Lingkungan terdiri dari bakti bersih pantai dan transplantasi terumbu karang. Sementara itu Program Pengembangan Sarana dan Prasarana terdiri dari Eco-Marine Tourism Park di Desa Lifuleo, E-Marine di Desa Tablolong, serta Sudut Baca Pesisir.
*Program Edukasi dan Pelatihan*
Program ini terdiri dari pelatihan dan monitoring budi daya selvarula. Target outcome-nya berupa penyediaan kebun bibit rumput laut unggul, bibit berkualitas dan performa pertumbuhan yang lebih baik, dan peningkatan produktivitas hasil panen secara signifikan.
Ada pula kegiatan monitoring kualitas perairan. Target outcome-nya berupa informasi aktual dan kontinyu tentang kondisi kualitas perairan Pantai Oesina serta meningkatnya pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan perairan.
Kegiatan lainnya adalah introduksi teknologi pengeringan. Target outcome-nya berupa housing para-para untuk meningkatkan efisiensi proses pascapanen (menjaga kualitas rumput laut lebih steril dan cepat kering serta perahu untuk membantu mobilisasi pengangkutan bibit atau saat panen dari pantai ke titik lokasi budidaya.
Kegiatan terakhir di program ini adalah pemberdayaan perempuan dan UMKM berupa diversifikasi produk rumput laut dan ikan. Target outcome-nya Peningkatan nilai ekonomis produk olahan - khas Desa Lifuleo serta pendampingan pemasaran produk untuk memperluas jangkauan.
*Program Konservasi Lingkungan*
Program ini terdiri dari bakti bersih pantai. Target outcome-nya berupa kepedulian terhadap lingkungan Pantai Oesina sehingga tetap terjaga keasriannya serta keterlibatan masyarakat untuk peduli akan lingkungan pantai.
Kegiatan lainnya pada program ini adalah transplantasi terumbu karang. Target outcome-nya berupa pemulihan ekosistem laut, sehingga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati, dan melindungi pantai dari abrasi.
*Program Pengembangan Sarana dan Prasarana*
Program ini terdiri dari Eco-Marine Tourism Park. Target outcome-nya, yaitu membantu meningkatkan kualitas sarana/ prasarana pendukung ekopariwisata di Pantai Oesina.
Ada pula kegiatan E-Marine (Electrifying Marine). Pertama berupa E-Marine Kelompok Nelayan Tablolong, dengan target outcome-nya adalah membantu menjaga kualitas dan mutu ikan dengan penyediaan freezer (penyimpanan hasil panen dan produksi es gratis di Desa Tablolong). Kedua, E-Marine Kultur Jaringan Rumput Laut, dengan target outcome-nya adalah produksi bibit unggul rumput laut yang hasilnya diseminasikan kepada masyarakat.
Kegiatan lainnya pada proram ini adalah Sudut Baca Pesisir. Target outcome-nya adalah membantu meningkatkan motivasi literasi, numerasi, dan kreativitas anak-anak pesisir melalui membaca, menggambar, berhitung, dan bernyanyi.
*Kerja Sama dengan PLN*
Dalam melaksanakan program ini, Politeknik KP Kupang bekerja sama dengan PT PLN (Persero) UPP Nusra 3 melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Ali Ulat berharap, melalui kolaborasi ini, Program Desa Eco-Bahari tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Lifuleo dan Tablolong, tetapi juga menjadi contoh praktik baik (best practice) pengembangan desa pesisir berbasis kemitraan, pendidikan vokasi, dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Kemandirian desa pesisir ini sebelumnya telah digencarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Ia menegaskan KNMP sebagai program terobosan pemerintah untuk mengubah wajah kampung nelayan tradisional menjadi lebih modern dan produktif.
Humas BPPSDM KP