JAKARTA – Menjelang Ramadan dan Idulfitri, kebutuhan masyarakat terhadap produk perikanan diprediksi meningkat. Namun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan harga komoditas perikanan tetap stabil dengan kenaikan yang masih dalam batas wajar.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, TB Haeru Rahayu, menyampaikan bahwa potensi inflasi dari sektor perikanan tidak perlu dikhawatirkan. Menurutnya, kenaikan harga komoditas budi daya hanya berkisar antara 0,25 hingga 1,39 persen.
“Kenaikan harga masih sangat terkendali, mulai dari 0,25 sampai 1,39 persen. Tidak ada lonjakan yang signifikan,” ujar Haeru dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026).
Data KKP mencatat, udang vaname menjadi komoditas dengan kenaikan terendah, hanya 0,24 persen dengan harga sekitar Rp63.000 per kilogram. Sementara kenaikan tertinggi terjadi pada ikan lele sebesar 1,39 persen dengan harga di kisaran Rp24.000 per kilogram.
Beberapa komoditas lain juga menunjukkan kenaikan tipis, seperti kakap (1,09 persen) di kisaran Rp50.000–Rp52.000 per kilogram, kerapu (0,86 persen) Rp106.000–Rp108.000 per kilogram, serta lobster (1,28 persen) Rp343.000–Rp380.000 per kilogram.
Adapun bandeng hanya naik 0,04 persen dengan harga sekitar Rp24.000 per kilogram. Ikan mas berada di kisaran Rp34.000–Rp35.000 per kilogram dengan inflasi 0,048 persen, nila naik 0,89 persen di harga Rp30.000–Rp31.000 per kilogram, dan patin naik 0,25 persen menjadi sekitar Rp23.000 per kilogram.
Sementara itu, ikan gabus mengalami kenaikan 0,30 persen dengan harga Rp43.000 per kilogram, serta papuyu atau betook naik 0,35 persen di kisaran Rp41.000 per kilogram.
Haeru menegaskan, peningkatan produksi perikanan budi daya menjadi faktor utama dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. KKP pun memastikan ketersediaan stok tetap aman hingga Lebaran.
“Insya Allah stok hasil budi daya stabil dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri,” tegasnya.