Jakarta, (8/11) – Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang berpegang pada mandat Kongres XXVI Tahun 2024 meneguhkan komitmen untuk menjaga martabat perempuan, menjunjung kejujuran informasi, merawat persaudaraan, serta melanjutkan amanah perjuangan perempuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Perbedaan pandangan perlu diselesaikan melalui dokumen, pemeriksaan yang adil, dan penghormatan terhadap semua pihak.
Menanggapi opini berjudul “Ketika Perempuan Indonesia Dijaga Tentara Vietnam”, Nannie Hadi Tjahjanto, S.H., menolak penggambaran dirinya sebagai pihak yang menghendaki kerugian bagi Indonesia demi jabatan. Ia menilai narasi tersebut menyesatkan dan merugikan nama baiknya, serta meminta agar tanggapannya disampaikan secara utuh kepada publik.
“Saya menilai tulisan ini menambah sederet dugaan pelanggaran yang saya persoalkan, termasuk dugaan penyebaran fitnah dan berita bohong. Saya terbuka terhadap kritik dan meminta setiap tuduhan diuji dengan bukti, konteks utuh, dan kesempatan memberikan penjelasan,” tegasnya.
Tuduhan mengenai intimidasi, ancaman terhadap karier diplomatik, dan tekanan terhadap panitia perlu dijelaskan secara spesifik, meliputi siapa yang melakukan, apa yang diucapkan, kapan terjadi, serta apa buktinya. Penyebutan “kubu” atau “rombongan” dengan nama Nannie tidak serta-merta membuktikan kehadiran, tindakan, atau perintah pribadinya. Penafsiran penulis mengenai motif juga perlu dibedakan dari kutipan ucapan yang dapat dibuktikan.
Narasi mengenai pengamanan acara perlu dikonfirmasi kepada penyelenggara atau pihak berwenang. Keberadaan petugas, apabila terkonfirmasi, tidak otomatis membuktikan adanya ancaman dari dirinya. Nannie menegaskan penghormatannya kepada KBRI, para diplomat, tuan rumah Vietnam, dan mitra ACWO.
Persoalan organisasi juga memiliki riwayat dokumen yang perlu ditelaah. Salinan surat Putri Narpowandawa Karaton Surakarta Hadiningrat tertanggal 11 September 2025 memuat evaluasi pelaksanaan tugas Sekretaris Jenderal serta rekomendasi pembenahan. Sementara itu, naskah sanggahan tertanggal 7 November 2026 atas Surat Nomor 259/Kowani/X/2026 memuat keberatan mengenai mandat, kewenangan forum, keabsahan peserta, kuorum, dan proses pergantian kepengurusan. Pokok-pokok ini memerlukan jawaban yang dapat diperiksa.
Terkait AHU, profil yang memuat perubahan pada 2025 perlu dicocokkan dengan salinan keputusan tertanggal 29 Oktober 2026. Dewan Pimpinan meminta penegasan tertulis dari Kementerian Hukum mengenai keputusan yang berlaku, lampiran, riwayat perubahan, dan pihak yang berwenang mewakili KOWANI. Beredarnya surat pemberitahuan tidak menghapus pokok keberatan yang tetap dipersoalkan.
Nannie meminta penulis dan pihak yang menyebarluaskan tulisan tersebut untuk memeriksa ulang sumbernya, memuat tanggapan secara proporsional, serta menghentikan penyebaran tuduhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi yang terbukti keliru diminta untuk dicabut dan dikoreksi secara terbuka pada saluran yang sama, disertai permintaan maaf dan pemulihan nama baik.
Menuju 100 Tahun KOWANI pada 2028, pengabdian tetap diarahkan pada kaderisasi dan estafet kepemimpinan untuk memasuki abad kedua perjuangan perempuan Indonesia. Program 1.000 Profesi, 1.000 Sertifikasi, dan 1.000 Solusi ditujukan untuk menjawab permasalahan nyata serta menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai Ibu Bangsa, KOWANI mendorong aksi terpadu bersama organisasi anggota dan jejaring daerah, serentak hingga tingkat akar rumput, untuk menutup kesenjangan dan melengkapi layanan. Arahnya adalah mempercepat pelaksanaan Asta Cita, pencapaian SDGs, dan pemenuhan komitmen CEDAW, dengan ketahanan keluarga sebagai garda terdepan peradaban bangsa.
Komitmen ini mencakup upaya menyukseskan KOWANI Goes to UNESCO Memory of the World dan mendukung TEMPE Goes to UNESCO sebagai bagian dari pelestarian memori perjuangan dan warisan budaya bangsa.
“Menghadapi sederet tuduhan yang saya yakini sebagai fitnah, saya tetap berikhtiar dengan bukti, kesabaran, dan doa. Saya percaya, ada masanya Allah SWT menunjukkan kebenaran. Mari menjaga adab, menghormati martabat sesama, dan melanjutkan pengabdian dengan jujur serta bertanggung jawab,” tutup Nannie.