Home / Daerah

Krisis Air Bersih Mengintai, AHY Sebut 43,5 Persen Wilayah RI Rasio Air Rendah

Media Bela Negara - 24 Februari 2026, 19:09 WIB

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti krisis air bersih yang masih menjadi persoalan serius, baik secara global maupun nasional. Ia menyebut, hampir setengah populasi dunia terdampak kelangkaan air bersih yang setiap tahunnya menyebabkan sekitar 829 ribu kematian akibat minimnya akses air minum, sanitasi, dan kebersihan.Hal itu disampaikan AHY dalam diskusi di kantornya di Jakarta Pusat, Selasa (24/2/2026).


Menurut AHY, kondisi di Indonesia menunjukkan tantangan yang tidak ringan. Sebanyak 43,5 persen wilayah Indonesia memiliki rasio ketersediaan air rendah, baik secara tahunan maupun mingguan. Wilayah tersebut meliputi utara Banten, Jakarta, Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur dan Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, hingga Sulawesi Selatan.


Selain itu, 28,7 persen wilayah masuk kategori ketersediaan air menengah. Artinya, cadangan air tahunan relatif mencukupi, namun mengalami kekurangan pada periode mingguan tertentu. Daerah yang termasuk dalam kategori ini antara lain selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Lampung, utara Sumatera, serta selatan Sulawesi.


Sementara itu, hanya 27,7 persen wilayah Indonesia yang memiliki rasio ketersediaan air baik, tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, sebagian besar Sulawesi, dan Kepulauan Maluku.


AHY menilai, data tersebut menunjukkan adanya “ilusi kelimpahan air” di Indonesia. Ia menyoroti Pulau Jawa sebagai wilayah dengan jumlah penduduk terbesar, sekitar 140 hingga 160 juta jiwa, namun justru didominasi rasio ketersediaan air rendah hingga menengah.
“Kadang-kadang ada ilusi bahwa kita melimpah air bersih, padahal 140 atau 160 juta penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa,” ujar AHY.


Kepala Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum, Bob Arthur Lombogia, menambahkan bahwa secara neraca nasional Indonesia sebenarnya mengalami surplus air, terutama di Sumatera, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.


Namun, kondisi berbeda terjadi di Jawa dan Bali yang mengalami defisit air, khususnya di kawasan Jabodetabek.
Bob menjelaskan, potensi air permukaan Indonesia mencapai 2.967,7 miliar meter kubik per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 1.845,7 miliar meter kubik atau 62 persen yang dapat tertampung, baik secara alami maupun buatan. Sisanya sekitar 38 persen terbuang ke laut akibat keterbatasan kapasitas tampungan.


Menurutnya, tantangan lainnya adalah distribusi air antarwilayah. Surplus air di satu daerah tidak mudah dialirkan ke daerah lain yang mengalami kekurangan, sehingga diperlukan penguatan infrastruktur dan tata kelola sumber daya air yang lebih terintegrasi.

Share :

google.com, pub-1323206817749951, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TERPOPULER


Lainnya