Tangerang – Inovasi pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai ekonomi terus berkembang di sektor pertanian. Salah satunya dilakukan PT Terang Dunia Tani (PT TDT) melalui Coki (Cacing Organik Kebanggaan Indonesia), yang mengembangkan budidaya cacing untuk menghasilkan pupuk organik atau vermikompos.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam ajang Nusantara Livestock & Poultry Expo dan Indogritech (Indonesia Agriculture Technology Expo) yang berlangsung pada 4–7 November 2026 di Nusantara Hall, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Keikutsertaan dalam pameran ini menjadi kesempatan bagi Coki untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jaringan pasar industri pertanian.
Direktur PT Terang Dunia Tani, Trubus Daryanto, menjelaskan bahwa pengembangan budidaya cacing berawal dari pengalamannya mengelola kebun durian. Saat itu, ia mencari alternatif pupuk organik yang lebih terjangkau dan dapat menjaga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.
Sebelumnya, ia menggunakan pupuk berbahan kotoran ternak yang difermentasi. Namun, berdasarkan pengalamannya, penggunaan pupuk tersebut dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan persoalan, termasuk risiko serangan jamur yang dapat merusak tanaman.
Dari situ, Trubus mulai mencari alternatif dan mengenal vermikompos pada 2024. Setelah mencoba mengaplikasikannya pada tanaman di kebun, ia melihat hasil yang cukup baik dan kemudian mengembangkan budidaya cacing secara lebih serius.
Usaha tersebut selanjutnya dikembangkan melalui kolaborasi dengan mitra. Berawal dari sekitar 300 kilogram cacing, budidaya Coki kini berkembang hingga mencapai sekitar 12 ton cacing dengan area pengembangan seluas kurang lebih 1,3 hingga 1,5 hektare di kawasan pabrik gula di Sragen, Jawa Tengah.
Salah satu fokus pengembangan Coki adalah mengolah limbah organik menjadi bahan budidaya cacing. Sejumlah material yang dimanfaatkan meliputi limbah tebu, kotoran sapi, limbah baglog jamur, hingga limbah organik restoran.
Trubus mengatakan, pemanfaatan limbah tebu menjadi salah satu upaya untuk mengatasi persoalan penumpukan limbah di lingkungan pabrik gula. Melalui proses budidaya cacing, limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Dalam kegiatan budidayanya, Coki menggunakan jenis cacing ANC (African Night Crawler). Jenis ini dipilih karena memiliki ukuran tubuh relatif besar dan kemampuan mengonsumsi bahan organik yang tinggi sehingga dinilai sesuai untuk mendukung produksi vermikompos dalam skala industri.
Saat ini, perusahaan mengembangkan dua produk utama, yakni vermikompos berbentuk remah atau tabur dan pupuk organik cair. Selain itu, Coki juga mulai mengembangkan produk turunan berupa asam amino dari cacing yang berpotensi dimanfaatkan untuk sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Dari sisi produksi, Trubus menyebut kapasitas terpasang perusahaan mencapai sekitar 700 ton per bulan. Sementara realisasi penjualan dan pengiriman saat ini berkisar 300 hingga 500 ton per bulan, meskipun permintaan pasar masih mengalami fluktuasi.
Produk vermikompos tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan perkebunan, antara lain durian, alpukat, kelapa sawit, dan buah naga. Perusahaan juga tengah melakukan uji coba penggunaan produk pada tanaman bawang merah.
Jangkauan pemasaran Coki telah mencakup sejumlah wilayah, termasuk Lampung dan Bangka Belitung. Perusahaan juga pernah memasok kebutuhan perkebunan besar, termasuk GGF atau Sunpride di Lampung.
Dalam menjaga kualitas produk, perusahaan memilih proses pengeringan alami dengan cara diangin-anginkan. Tingkat kelembapan dijaga sekitar 20–30 persen agar mikroorganisme yang bermanfaat dalam vermikompos tetap terpelihara. Penggunaan pengeringan bersuhu tinggi dihindari karena dikhawatirkan dapat memengaruhi kandungan mikroorganisme tersebut.
Menurut Trubus, penggunaan vermikompos secara rutin selama enam bulan hingga satu tahun berpotensi mengurangi kebutuhan pupuk kimia. Berdasarkan pengalaman uji coba perusahaan, pengurangan tersebut diklaim dapat mencapai lebih dari 50 persen.
Meski kapasitas produksi terus dikembangkan, perusahaan masih menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas permintaan. Trubus menyebut kebutuhan dari perusahaan perkebunan besar dapat mencapai 150 hingga 250 ton per bulan. Namun, pemesanan belum berlangsung secara rutin karena sejumlah pelanggan masih melakukan riset dan pengujian produk.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih luas terhadap pengembangan budidaya cacing sebagai alternatif pengolahan limbah organik. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya membantu mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha dan meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat, khususnya petani.
Ke depan, Coki menargetkan pengembangan produk turunan berupa asam amino yang dapat dimanfaatkan dalam industri pertanian, peternakan, dan perikanan. Pengembangan ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hasil budidaya cacing sekaligus membuka peluang mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Trubus berharap usaha yang dikembangkan dari Sragen tersebut dapat tumbuh menjadi bagian dari industri nasional dan berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan Indonesia. Selain memperluas pasar domestik, perusahaan juga membidik peluang ekspor agar produk berbasis pemanfaatan limbah organik dalam negeri dapat menjangkau pasar internasional.