Jakarta – PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) tetap optimis terhadap prospek industri makanan bayi dan produk nutrisi anak di Indonesia meski membukukan rugi bersih pada tahun 2025. Perseroan menilai pertumbuhan jumlah penduduk dan tinggi angka kelahiran menjadi peluang besar bagi pengembangan bisnis makanan bayi dalam beberapa tahun ke depan.
Direktur Utama PT Hassana Boga Sejahtera Tbk, Dody Arifianto, mengatakan pasar makanan bayi nasional masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar, terutama pada segmen makanan pendamping ASI (MPASI) organik yang terus berkembang.
Sepanjang tahun 2025, NAYZ membukukan penjualan neto sebesar Rp23,9 miliar dengan laba kotor Rp6,7 miliar. Namun perseroan masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp4,3 miliar pada tahun buku 2025.
Dari sisi neraca, total aset perseroan tercatat sebesar Rp68,3 miliar per akhir 2025. Sementara itu, total liabilitas mencapai Rp2,44 miliar dan ekuitas sebesar Rp65,9 miliar. Perseroan juga mempertahankan tingkat leverage yang rendah dengan rasio terhadap ekuitas (DER) sebesar 0,04 kali.
Menurut Dody, prospek industri makanan bayi masih menjanjikan seiring pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang diperkirakan mendekati 300 juta jiwa pada tahun 2030. Selain itu, rata-rata jumlah kelahiran bayi di Indonesia hingga tahun 2030 diperkirakan mencapai sekitar 4,5 juta bayi per tahun.
Perseroan juga melihat peluang besar dari pasar MPASI organik nasional yang diproyeksikan tumbuh sekitar Rp4,2 triliun pada tahun 2024 menjadi lebih dari Rp10 triliun pada tahun 2029. Tren tersebut mendorong meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya produk pangan sehat dan bernutrisi bagi anak.
Untuk menangkap peluang tersebut, NAYZ mengandalkan strategi yang fokus pada inovasi produk, peningkatan kualitas, penguatan layanan pelanggan, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan adaptasi terhadap perubahan kebutuhan konsumen.
Saat ini, perseroan memasarkan berbagai produk makanan bayi berbahan baku lokal, seperti MPASI organik, bubur organik, fortified protein, dan kaldu organik. Produk-produk tersebut telah dipasarkan melalui jaringan ritel dan platform digital yang menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.
Dengan prospek pasar yang masih berkembang, manajemen optimistis penguatan produk dan perluasan akan menjadi pendorong pertumbuhan kinerja perseroan pada masa mendatang.