Home / Daerah

NusaQu Perkuat Ekosistem Peternakan Lokal, Gandeng Peternak hingga Sektor Digital

Media Bela Negara - 04 November 2026, 15:33 WIB

Tangerang– PT Nusa Sentosa Indonesia (nusaQu) terus mendorong penguatan ekosistem peternakan lokal melalui kolaborasi lintas sektor dalam Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLPE) 2026, yang menjadi bagian dari Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH) 2026. Pameran yang berlangsung pada 4–7 November 2026 di Nusantara Hall, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City ini menjadi momentum bagi nusaQu untuk memperkenalkan pengelolaan peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam ajang tersebut, nusaQu tidak hanya menampilkan hewan ternak, tetapi juga memperkenalkan ekosistem usaha yang mencakup penyediaan ternak, pakan, pengelolaan produksi, hingga pemanfaatan limbah. Melalui pendekatan ini, perusahaan berupaya membuka ruang kolaborasi sekaligus memperluas keterlibatan peternak lokal dalam rantai usaha peternakan nasional.

Direktur PT Nusa Sentosa Indonesia (nusaQu), Nanang Sugiarto, mengatakan bahwa pengembangan peternakan lokal menjadi salah satu komitmen utama perusahaan. Saat ini, nusaQu berfokus pada pengelolaan ternak lokal, khususnya sapi, kambing, dan domba, dengan kebutuhan hewan kurban sebagai salah satu pasar potensial.

“Keunggulan kami adalah tetap mengelola hewan ternak lokal, yaitu sapi, kambing, dan domba. Fokus pasar kami juga masih cukup besar pada kebutuhan hewan kurban,” ujar Nanang.

Berbeda dengan keikutsertaan sebelumnya, tahun ini nusaQu membawa gambaran ekosistem peternakan secara lebih nyata ke area pameran. Pengunjung dapat melihat langsung berbagai jenis ternak yang ditampilkan, sekaligus mengenal proses pendukung usaha peternakan, mulai dari penyediaan pakan hingga pengolahan limbah.

Sebanyak lima ekor sapi dihadirkan, terdiri atas dua sapi super, satu sapi ras Bali, satu sapi ras Madura, dan satu pedet atau anak sapi peranakan Brahman. Selain itu, nusaQu juga menampilkan 10 ekor domba yang terdiri atas dua pejantan, empat anakan, serta sepasang induk dan anakannya.

Kehadiran ternak secara langsung menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Namun, menurut Nanang, membawa hewan ke lingkungan pameran dengan aktivitas dan tingkat keramaian tinggi membutuhkan penanganan khusus agar ternak dapat beradaptasi dengan suasana baru.

Selain memperkenalkan potensi peternakan lokal, nusaQu juga menyelenggarakan business forum selama tiga hari dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Forum tersebut menjadi ruang diskusi untuk membahas pengembangan usaha peternakan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan bakalan, pakan, proses produksi, pengolahan limbah, hingga keberlanjutan lingkungan, termasuk isu emisi karbon.

Dalam kegiatan ini, nusaQu mengusung konsep Green Urban dengan semangat “Nyata untuk Manusia, Lestari untuk Alam”. Konsep tersebut menggambarkan komitmen perusahaan dalam membangun usaha peternakan yang tidak hanya berorientasi pada nilai ekonomi, tetapi juga memperhatikan keseimbangan dan kelestarian lingkungan.

Nanang menjelaskan, rangkaian business forum dibagi menjadi tiga fokus pembahasan. Hari pertama diarahkan untuk memperkenalkan ekosistem peternakan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Hari kedua membahas peran sektor pendukung, seperti perbankan, teknologi digital, dan penyedia layanan lainnya dalam memperkuat usaha peternakan.

Menurutnya, pengembangan peternakan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor. Karena itu, nusaQu terus membangun kerja sama dengan lembaga perbankan, baik untuk mendukung kebutuhan pembiayaan maupun memperluas akses pemasaran.

Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi bagian dari strategi pengembangan tersebut. nusaQu mengintegrasikan sistemnya dengan aplikasi mitra untuk mendukung penyediaan hewan kurban. Kolaborasi dengan Pos Digi, misalnya, menjadi salah satu upaya memperluas jaringan layanan sekaligus membuka peluang kerja sama dengan sektor lain.

Sementara itu, hari ketiga business forum difokuskan pada pengembangan pasar melalui penguatan kemitraan dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), yayasan, dan berbagai lembaga yang memiliki kebutuhan terhadap hewan kurban.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, nusaQu ingin memastikan bahwa pengembangan ekosistem peternakan dapat memberikan manfaat langsung bagi peternak lokal. Dengan bergabung dalam jaringan usaha yang dibangun perusahaan, para peternak diharapkan memiliki akses lebih luas terhadap kebutuhan pakan, dukungan pendanaan, serta peluang pemasaran.

“Kami tidak ingin berkembang sendiri, tetapi ingin mengajak seluruh peternak lokal untuk maju bersama. Jadi, peternak yang membutuhkan pakan, pendanaan, maupun akses pasar bisa terhubung dengan ekosistem yang kami bangun,” ungkap Nanang.

Ia berharap kolaborasi antara peternak, penyedia pakan, lembaga keuangan, penyedia teknologi digital, dan jaringan pemasaran dapat menciptakan ekosistem peternakan yang semakin kuat dan berkelanjutan.

Partisipasi nusaQu dalam NLPE 2026 pun menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi peternakan lokal sekaligus mendorong terbentuknya rantai usaha yang lebih terintegrasi. Dengan dukungan berbagai pihak, peternak lokal diharapkan semakin berdaya, memiliki daya saing, serta mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional, khususnya komoditas hewan kurban.

Share :

google.com, pub-1323206817749951, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TERPOPULER


Lainnya