Jakarta – PT Mitra International Resources Tbk (MIRA) menilai prospek industri transportasi darat masih menjanjikan pada 2026 meski sepanjang tahun lalu perseroan menghadapi tekanan akibat melemahnya sektor pengangkutan semen bag nasional.
Hal tersebut disampaikan dalam Paparan Publik Tahunan Perseroan yang digelar di Grand Whiz Poins Simatupang, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Direktur MIRA, Arda Billy mengatakan transportasi truk masih menjadi tulang punggung distribusi barang nasional dan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Perseroan tetap optimistis terhadap keberlangsungan industri transportasi darat mengingat pertumbuhan perekonomian sangat membutuhkan peran transportasi angkutan barang,” ujar Arda.
Menurut dia, potensi industri transportasi truk masih cukup besar karena moda transportasi tersebut tetap menjadi sarana utama distribusi barang dibanding moda transportasi lainnya. Program pembangunan infrastruktur pemerintah juga dinilai berpotensi mendorong peningkatan permintaan jasa pengangkutan semen.
Perseroan bergerak di bidang jasa transportasi darat menggunakan armada truk, dengan segmen utama pengangkutan semen bag dan air minum dalam kemasan. Area operasional perusahaan mencakup Pulau Jawa, khususnya wilayah Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.
Selain melayani distribusi semen bag, perusahaan juga menjalankan proyek kerja sama truk mixer bersama Semen Dynamix di Jawa Timur.
Dalam paparannya, manajemen mengungkapkan perseroan memiliki total 198 armada truk yang tersebar di Citeureup dan Palimanan. Armada tersebut terdiri dari portal, engkel, tronton, tronton wing box, dump truck, trailer, hingga truk mixer.
Untuk menunjang kegiatan operasional, perusahaan menyediakan sejumlah fasilitas pendukung seperti ruang pelatihan pengemudi, bengkel, klinik kesehatan, serta ruang kontrol GPS. Perseroan juga menerapkan Sistem Manajemen Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lingkungan (SMK3L) dan mengklaim berhasil mempertahankan capaian “zero fatality” sejak 2014 hingga akhir 2024.
Di tengah prospek industri yang dinilai masih terbuka, perusahaan mengakui kinerja sepanjang 2025 masih menghadapi tantangan. Kondisi penjualan semen bag nasional yang belum pulih memberikan tekanan terhadap operasional perseroan, mengingat sebagian besar pendapatan perusahaan berasal dari jasa transportasi semen.
Selain itu, kenaikan biaya operasional yang tidak diimbangi penyesuaian tarif secara proporsional serta berkurangnya armada akibat usia kendaraan yang tidak lagi layak operasi turut mempengaruhi kinerja perusahaan.
Sepanjang 2025, volume angkut perseroan tercatat mencapai 1,06 juta ton atau turun sekitar 2 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1,08 juta ton. Pendapatan usaha dari segmen pengangkutan tercatat sebesar Rp63,28 miliar atau turun 4,2 persen dibanding 2024 sebesar Rp66,02 miliar.
Meski demikian, laba usaha jasa transportasi membaik menjadi Rp428 juta dibanding tahun sebelumnya yang masih mencatat rugi usaha sebesar Rp91 juta.
Secara keseluruhan, perseroan masih membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp9,17 miliar pada 2025, meningkat dibanding rugi tahun sebelumnya sebesar Rp8,69 miliar. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp5,14 miliar.
Adapun total aset perseroan hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp233,56 miliar, dengan total liabilitas Rp88,22 miliar dan ekuitas sebesar Rp145,33 miliar.
Ke depan, perseroan menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat bisnis transportasi, antara lain meningkatkan utilisasi armada, membuka jalur transportasi yang lebih efisien, memperbaiki proses bisnis internal, serta melakukan efisiensi biaya operasional dan pengendalian arus kas guna menjaga keberlangsungan usaha.