Home / Daerah

PII Tekankan Peran Insinyur dalam Transformasi Hijau dan Ekonomi Sirkular ASEAN

Media Bela Negara - 17 September 2026, 17:04 WIB

Jakarta – Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menegaskan pentingnya memperkuat peran insinyur dalam mendorong transformasi hijau dan pembangunan industri berkelanjutan di kawasan ASEAN. Transformasi tersebut dinilai tidak hanya penting untuk menjawab tantangan perubahan iklim, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja baru atau green jobs.

Hal tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal PII, Ir. Haudhi Ramdayuza, S.T., IPU., ASEAN Eng., dalam panel session Young Engineers Festival (YEF) 2026 Road to CAFEO 44 di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Haudhi mengatakan, transformasi industri nasional saat ini tidak lagi semata-mata berorientasi pada efisiensi biaya dan ketepatan waktu penyelesaian proyek. Perkembangan teknologi, urbanisasi yang pesat, serta meningkatnya risiko perubahan iklim menuntut adanya perubahan paradigma dalam praktik keinsinyuran.

Dari Problem Solver Menjadi Change Maker

Menurut Haudhi, kompleksitas tantangan pembangunan membuat kompetensi teknis saja tidak lagi cukup bagi insinyur masa kini. Insinyur dituntut mampu memahami persoalan secara menyeluruh, berinovasi, serta mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dari setiap solusi yang dirancang.

«“Insinyur hari ini harus menjadi inovator, dan esok hari harus menjadi changemaker. Kita bukan sekadar pemecah masalah, melainkan system thinker,” kata Haudhi.»

Ia menambahkan, titik temu antara revolusi hijau dan transformasi digital menjadi salah satu kunci dalam membangun infrastruktur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pemanfaatan energi terbarukan yang dipadukan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sensor untuk pemantauan energi secara real-time, hingga teknologi digital twins dapat membantu meningkatkan efisiensi, keandalan, serta kinerja infrastruktur.

Indonesia dan ASEAN sebagai Laboratorium Keinsinyuran

Haudhi menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu laboratorium keinsinyuran terbesar di kawasan ASEAN. Berbagai proyek pembangunan nasional dapat menjadi ruang penerapan teknologi sekaligus pengembangan kompetensi insinyur Indonesia.

Sejumlah contoh antara lain pemanfaatan energi terbarukan melalui PLTS Terapung Cirata serta pengembangan tata kota berorientasi masa depan di IKN Nusantara.

Praktik serupa juga berkembang di negara-negara ASEAN. Singapura, misalnya, mengembangkan integrasi sistem air dan energi melalui Tuas Nexus, sementara Thailand mengembangkan Bendungan Sirindhorn yang memadukan pembangkit listrik tenaga air dengan panel surya terapung.

Menurut Haudhi, berbagai proyek tersebut menunjukkan bahwa transformasi hijau membutuhkan pendekatan keinsinyuran yang mampu mengintegrasikan teknologi, lingkungan, ekonomi, dan kebutuhan masyarakat.

Dorong Peralihan Menuju Ekonomi Sirkular

Selain transformasi energi, PII juga menyoroti pentingnya perubahan pola pikir dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular.

Jika model ekonomi linear menggunakan pendekatan “take, make, use, waste”, maka ekonomi sirkular mendorong prinsip “design, use, recover, regenerate”. Pendekatan tersebut memungkinkan sumber daya digunakan secara lebih efisien sekaligus mengurangi timbulan limbah.

Konsep Eco-Industrial Parks (EIP) menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi sirkular di sektor industri. Dalam konsep ini, limbah atau produk samping dari satu industri dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi industri lainnya sehingga menciptakan efisiensi sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Lima Karakter Insinyur Masa Depan

Menghadapi dinamika industri dan persaingan regional ASEAN, PII mendorong generasi muda keinsinyuran untuk memiliki karakter yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkolaborasi.

Haudhi merangkum karakter tersebut dalam konsep 5C, yaitu:

1. Curious & Creative – memiliki rasa ingin tahu yang tinggi serta keberanian mengeksplorasi dan menciptakan solusi baru.
2. Connected – mampu membangun kolaborasi lintas disiplin, sektor industri, institusi, dan negara.
3. Conscious – memiliki kesadaran terhadap dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari setiap rancangan dan keputusan keinsinyuran.
4. Courageous – berani menantang status quo serta mengambil risiko yang terukur untuk menghasilkan inovasi.
5. Capable – memiliki kompetensi dan kemampuan untuk menerjemahkan pengetahuan serta inovasi menjadi solusi nyata yang memberikan nilai tambah.

Transformasi hijau, menurut Haudhi, sekaligus menghadirkan peluang baru bagi generasi muda. Kebutuhan terhadap tenaga profesional akan terus berkembang seiring pertumbuhan sektor energi terbarukan, manajemen karbon, efisiensi energi, teknologi bersih, ekonomi sirkular, hingga pengembangan smart cities.

Karena itu, PII mendorong insinyur muda Indonesia untuk tidak hanya memposisikan diri sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta solusi dan pembuka peluang yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat, industri, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

Melalui penguatan kompetensi, kolaborasi regional, dan pemanfaatan teknologi, generasi muda keinsinyuran Indonesia diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam membentuk masa depan industri yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.

Share :

google.com, pub-1323206817749951, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TERPOPULER


Lainnya