TANGERANG, 15 Oktober 2026 — Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) menggelar simposium nasional bertajuk *“Ketahanan Energi Nasional Menuju Swasembada Energi Berkelanjutan”* di Tangerang, Kamis (15/10/2026). Kegiatan ini menjadi forum untuk membahas arah Kebijakan Energi Nasional serta penyusunan peta jalan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dalam mendukung target swasembada energi.
Simposium tersebut mengangkat pentingnya sinergi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Pembahasan mencakup ketersediaan pasokan energi, pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), investasi sektor energi, serta keberlanjutan pembangunan untuk menjawab kebutuhan energi Indonesia dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, **James Riady** diharapkan dapat memberikan perspektif mengenai peran dunia usaha dan investasi dalam mendukung pembangunan sektor energi nasional. Keterlibatan sektor swasta dinilai penting untuk memperkuat pembiayaan, mendorong inovasi, serta membangun kolaborasi yang mampu meningkatkan daya saing industri energi Indonesia.
Sementara itu, **Tony Wenas** dapat menyoroti pentingnya ketersediaan energi yang andal dan kompetitif bagi keberlangsungan industri nasional. Kepastian pasokan listrik, efisiensi energi, serta pengembangan teknologi menjadi faktor strategis dalam mendukung pertumbuhan industri, meningkatkan produktivitas, dan menjaga daya saing Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.
Dari sisi kebijakan pemerintah, **Bahlil Lahadalia** diharapkan memberikan penjelasan mengenai arah kebijakan energi nasional, strategi penguatan ketahanan energi, serta upaya mengoptimalkan potensi sumber daya energi dalam negeri. Kebijakan tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi ketergantungan pada energi impor sekaligus mendorong pemanfaatan sumber energi domestik secara berkelanjutan.
Adapun **Maruarar Sirait** dapat memberikan perspektif mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor dan kepemimpinan dalam mendukung agenda pembangunan nasional. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar kebijakan energi dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian serta kesejahteraan masyarakat.
Keempat perspektif tersebut menempatkan ketahanan energi sebagai agenda strategis yang tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga menyangkut keterjangkauan harga, kepastian investasi, pemerataan akses energi, dan keberlanjutan lingkungan.
Penyusunan peta jalan RUPTL 2025–2034 juga menjadi salah satu aspek penting dalam diskusi. Perencanaan ketenagalistrikan perlu mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan permintaan, pengembangan pembangkit, penguatan jaringan transmisi dan distribusi, serta integrasi energi terbarukan sesuai dengan kebijakan dan kebutuhan sistem kelistrikan nasional.
Melalui simposium nasional ini, PIKI diharapkan dapat memperkuat kontribusi pemikiran kaum intelektual dalam merumuskan rekomendasi kebijakan energi yang realistis, terukur, dan berorientasi jangka panjang.
Ketahanan energi yang kuat diharapkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta terwujudnya kemandirian energi Indonesia yang berkelanjutan.
**Catatan redaksi:** Pernyataan dan atribusi kepada James Riady, Tony Wenas, Bahlil Lahadalia, serta Maruarar Sirait di atas merupakan draf pengembangan naskah, bukan kutipan atau pernyataan faktual yang telah dikonfirmasi. Sebelum diterbitkan, pastikan kehadiran, jabatan yang relevan, materi paparan, dan pernyataan asli masing-masing tokoh.
Agar berita ini lebih kuat untuk diterbitkan di media nasional, kirimkan transkrip, catatan sambutan, atau foto materi paparan keempat tokoh tersebut. Saya bisa memasukkan pernyataan mereka secara akurat, termasuk kutipan langsung, tanpa mengubah maksud narasumber.