Home / Daerah

Simposium Nasional Sumpah Pemuda, Yori Antar Dorong Kearifan Lokal NTT Mendunia

Media Bela Negara - 22 Oktober 2026, 12:46 WIB


JAKARTA – Sinergi Perempuan Indonesia bersama Sahabat Insan dan Perempuan Berkebaya Indonesia menggelar Simposium Nasional bertajuk “Pesona NTT, Ragam Sanggul Kebaya Kain Indonesia” di Jakarta, Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya Nusantara sekaligus mendorong potensi kearifan lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) agar semakin dikenal di tingkat internasional.


Simposium yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tersebut menghadirkan arsitek budaya Yori Antar sebagai pemapar utama dengan materi “Meningkatkan Potensi Kearifan Lokal NTT untuk Lebih Mendunia”. Dalam kesempatan yang sama, diluncurkan Kalender Pesona NTT 2026 yang menampilkan koleksi foto karya Yori Antar.


Dalam pemaparannya, Yori Antar menekankan bahwa pelestarian budaya harus melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Ia menceritakan pengalamannya saat pertama kali mengunjungi Desa Adat Wae Rebo di Flores pada tahun 2008, yang kemudian mengubah pencampuran terhadap pelestarian warisan budaya.


“Tahun 2008 menjadi titik balik. Saya tidak lagi ingin melihat Kebudayaan dari luar ke dalam, tetapi dari dalam ke luar bersama masyarakat,” ujar Yori.


Melalui Yayasan Rumah Nusantara, upaya pelestarian dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar, guru, serta para pendukung program. Salah satu hasilnya adalah restorasi rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo yang mempertahankan teknik dan nilai arsitektur tradisional tanpa menggunakan paku maupun beton modern.


Upaya tersebut mendapat pengakuan internasional melalui UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation pada tahun 2012. Model konservasi berbasis gotong royong itu kemudian dikembangkan di lebih dari 35 lokasi di Nusantara, termasuk untuk pelestarian lebih dari 150 rumah adat di Sumba.


Pemberdayaan Penenun sebagai Penggerak Ekonomi Lokal
Selain pelestarian arsitektur tradisional, Yori menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan perajin tenun sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Pembangunan rumah tenun menjadi salah satu langkah untuk menyediakan ruang produksi dan pameran yang lebih layak bagi para perajin. Fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan kerja sekaligus memperluas kesempatan pemasaran produk tenun tradisional.


“Kami telah membangun 15 rumah tenun di Sumba dan berlanjut ke pulau-pulau lain di NTT. Kain tenun bukan sekedar komoditas pabrik, melainkan karya seni tinggi yang lahir dari inspirasi dan hubungan mendalam perajin dengan alam,” tegasnya.


Menurut Yori, kain tenun tradisional memiliki nilai budaya dan artistik yang perlu dihargai secara lebih luas. Dukungan terhadap produk tenun lokal tidak hanya membantu menjaga keberlangsungan tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi komunitas perajin.


Apresiasi masyarakat terhadap kain tenun NTT dalam berbagai pameran dan kegiatan peresmian bahkan mampu menghasilkan transaksi hingga miliaran rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa warisan budaya dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi kreatif apabila didukung promosi, akses pasar, dan penghargaan yang layak terhadap karya perajin.


Menuju Panggung Internasional dan Repatriasi Budaya
Gerakan pelestarian budaya NTT juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) di bawah kepemimpinan Veronica Tan.

Peneun perempuan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga sekaligus mewariskan pengetahuan dan keterampilan tradisional kepada generasi berikutnya.
Ke depan, Yori Antar bersama tim tengah mempersiapkan pameran Living Wonders di Leiden, Belanda, pada tahun 2027.

Pameran ini direncanakan menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya NTT kepada masyarakat internasional.


Selain promosi budaya, agenda tersebut juga membawa misi repatriasi budaya melalui upaya penelusuran dan pengembalian artefak, rekaman lagu daerah, serta literatur mengenai motif tenun NTT yang tersimpan di museum-museum Eropa.


Yori menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan peradaban dan tradisi yang patut diperkenalkan kepada dunia dengan penuh kebanggaan. Oleh karena itu, pelestarian budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara masyarakat, komunitas budaya, pemerintah, sejarawan, dan generasi muda.


“Indonesia adalah bangsa penemu yang kaya akan budaya. Kita harus bangga dan percaya diri membawa peradaban Nusantara ke panggung dunia,” tutup Yori.


Melalui simposium ini, penyelenggara berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang memperkenalkan, mengapresiasi, dan mendukung produk kerajinan dalam negeri. Dengan demikian, kekayaan budaya NTT tidak hanya dilestarikan sebagai warisan leluhur, tetapi juga berkembang menjadi sumber inspirasi, identitas bangsa, dan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Share :

google.com, pub-1323206817749951, DIRECT, f08c47fec0942fa0

TERPOPULER


Lainnya